Pil Pahit kehidupan

Oktober, 2008

Aku baru saja pulang kerja, dan ini adalah malam minggu. Tak terasa hubungan ku dengan Fatimah berjalan 3 tahun. Usai mandi dan shalat Maghrib, aku berencana mengajak Fatimah jalan-jalan.
Tiba-tiba Hp ku berbunyi, ternyata ada sms masuk dari kekasihku.
" Ass.
Bg,ntr abg gk ush k rmh, qt ktmu di luar ja. "
Aku bertanya dalam hati, ada apa ini?mengapa mesti bertemu diluar?
lalu ku balas
" wa'alaikum slm.
qt ktmu dmn? "
" D tmpt danu ja, bg.
Ada yg mw Timah smpekan."
" Ok, syg."

Memang selama ini kami sering ngumpul dirumah Danu, dan hal itu biasa bagiku. Yang tidak biasa adalah mengapa timah memintaku bertemu diluar,biasanya juka ingin keluar, aku selalu menjemputnya. Kulihat jam di hp ku pukul 19.40 wib, dan aku mengeluarkan kereta hasil kerjaku itu.
Memang selama aku kerja, aku telah membeli sebuah kereta dan sebuah hp, bahkan aku juga telah membelikan hp buat Fatimah, hal itu kulakukan karena aku memang berniat berumah tangga dengan Fatimah. Maka aku bisa mengumpulkan uang, sehingga sedikit demi sedikit aku bisa membeli kereta dan hp.
Aku masih membayangkan bagaimana indahnya hubungan kami selama ini. Tak ada sedikitpun keributan, hanya ada kemesraan yang terjalin diantara kami. Orang tua fatimah pun selama ini sangat mendukung hubungan kami. Namun sebaliknya, orang tuaku awalnya menentang hubungan kami.sebab status Fatimah yang menyandang gelar janda, setelah aku berhasil aku yakinkan pada orangtuaku bahwa fatimah anak yang baik, barulah orang tuaku menyetujui hubungan kami.
Akupun bergerak menuju rumah Danu, kulihat Fatimah telah menunggu di depan teras rumahnya.
" Adik dah lama nunggu? "
" Baru bang. "
" Ya udah naik, kita jalan-jalan."
" Bang,,,ehmm,,,, kita gak usah keluar, ya? ada yang mau timah bilang ke abang. "
" Oh ya udah terserah, mau bilang apa dik? "
Aku memarkirkan kereta, terus turun mendekatinya.
Kami mengambil tempat untuk duduk, kebetulan Danu yang baru siap mandi keluar.
" Gil, pake kereta bentar, ada yang mau ku beli di kota. "
" Nih kuncinya, hati-hati, Dan. "
" Ok, ku tinggal dulu ya."
" Ok, sip."
Malam begitu cerah dan indah, bentuk purnama yang sempurna makin indah dengan bayang-bayang Halo yang melingkarinya dengan rona pelangi.
" Dek, coba tengok bulan purnama itu, indah bukan? gitulah perasaan abang ama timah, penuh cinta dan keindahan. "
Setelah menatap langit, ku tolehkan pandanganku ke wajahnya, ku lihat Fatimah menangis.
" Maafkan Timah, bang...
maafkan Timah,,,,.."
" Hey,,, kenapa Timah menangis? Ada apa ini? "
Ku seka airmatanya dan berusaha mencari tahu atas penyebab ia menangis.
" Bang, abang sayang gak sama timah? "
" kenapa Timah kok nanya itu? Abang sayang sama Timah,abang cinta sama Timah. Apa selama ini abang kurang perhatian sama Timah? "
" Kalo emang abang sayang sama Timah, Lupakan Timah, bang. Abang carilah perempuan lain yang lebih baik dari Timah."
" Gak, gak. Abang gak akan lupakan Timah, abang gak akan cari perempuan lain, abang gak bisa hidup tanpa Timah, tolong dek ! jangan buat abang jadi bingung..."
Tak terasa air mata jatuh di pipiku. Aku tak mampu mendengar ucapan Fatimah. Untuk pertama kali aku menjatuhkan airmata demi seorang perempuan.
"Tadi siang tanpa sepengetahuan timah, ada satu keluarga datang kerumah, hendak melamar timah,bang. Dan tanpa persetujuan dari Timah, ibu dan bapak menerima lamaran itu. "
" Tunggu dulu! memangnya siapa laki-laki yang melamar timah itu?
" dia adalah anak dari pemborong proyek tempat almarhum suami timah kerja, bang. Begitu dia tau Timah janda, dia bilang suka sama Timah, bang.tapi timah tolak. Sekarang dia berani melamar timah, membawa keluarganya datang kerumah dan ibu sama bapak udah terlanjur menerima lamaran itu. Timah sempat kaget dan menolaknya. Tapi ibu sama bapak mengancam akan ngusir timah dan gak mengakui timah sebagai anak mereka kalo timah masih berhubungan sama bang."
 Fatimah terus menangis sejadi-jadinya. Dan aku mencoba meyakinkan dia.
" Mah, abang udah berjuang demi hubungan kita di hgadapan kedua orang tua abang. sekarang abang minta ma timah untuk bantu abang memperjuangkan cinta kita dihadapan orang tua Timah. "
" Timah gak sanggup bang melawan orangtua timah. Lebih baik lupakan aja timah. Timah gak mau dianggap anak yang tak berbakti pada orang tua timah, bang., maafkan, timah, maaf kan timah...."
Aku tak bisa berkata apa-apa. Fatimah pun bergegas pulang dengan uraian air mata dipipinya. Tak lama Danu pun kembali dari kota.
" lho, timah mana? Nih kuncinya, makasih ya gil? "
" iya, Dan, sama-sama. Aku balik ya. "



" WAHAI KAU AIR MATA KU
HANYA ENGKAULAH SAKSI HIDUPKU
SAAT AKU KEHILANGANNYA
SAAT AKU KEHILANGANNYA "
( dikutip dari penggalan lagu Hijau daun" aku dan airmata" )

Aku pamit pada danu dan segera pergi ke tempat dimana aku bisa menenangkan diriku. Hingga aku sampai di titi Padang, ku parkirkan kereta dan aku berdiri di tepi  titi.
" ALLAAAHHHHH,,,kenapa Engkau coba aku seberat ini, Ya Allah???!!!
Aku tak sanggup! aku tak sanggup!!
Aku tak sanggup untuk hidup ya Allah....."

Aku berteriak dan terus menangis sampai aku terjongkok di pinggir titi.
" Baru saja Kau berikan aku kebahagiaan, Kenapa Engkau datangkan kesedihan dan rasa sakit ini ya Allah, kenapaaaa???!!! "
Aku seperti orang gila, meracau-racau tak tentu arah. Kurasakan langit seakan berputar begitu hebatnya. Aku pusing, kepalaku  tiba-tiba sakit. Lantas aku bergerak hendak pulang, disaat itu kulihat jam di hp menunjukkan pukul 23.04 wib.
Ketika aku hendak bangkit, ku lihat seorang pria turun dari kereta menghampiriku dan tiba-tiba pandangan ku menjadi gelap.


Pukul 00.23 wib

perlahan ku membuka mata. Begitu ramai orang dirumah, tapi ini rumah siapa? Aku masih bingung. Sayup-sayup ku dengar suara ibu ku berbincang dengan seorang pria.
" Kebetulan saya melihat abang ini, bu, karena kenal saya dekati, ketika abangini mau bangkit, trus pingsan. "
" Untung aja ada kamu, nak. Kalo tidak entah macam mana lah si agil ini. "
 Ternyata aku berada di kamarku sendiri. Aku bangkit dan keluar dari kamar.
" Mak, kenapa kok rame kali? "
" Eh, udah sadar dia, pelan-pelan nak."
Pria yang berbincang dengan ibuku pun membantu memapahku berjalan. Memang ku rasakan tubuhku masih lemah
 " Agil, kau kenal sama anak ini? "
Ku pandang wajahnya. sepertinya aku pernah melihat wajah ini, tapi entah dimana.
" Em,,, bang Agil, aku anak yang abang tolong waktu nabrak ibu-ibu di pajak gambir, ingat?? "
" Oh, iya, maaf aku lupa. Soalnya itu kejadian udah 3 tahun yang lalu. Maaf ya udah bikin repot. "
" Iya, bang, gak papa. Pas kebetulan aja aku liat abang, jadi waktu aku mau tegur abang, abang malah pingsan. Oh, ya bu, bang agil, namaku Jodan."
 satu persatu orang-orang pada berpulangan. Kini tinggal aku, ibu ayah dan jodan.
" Sebentar emak buat teh dulu, ya. "
" waduh, gak usah repot-repot bu, emak, ni juga mau balik kok. "
" minum dulu lah, lagian kan udah malam, tidur disini aja, besok baru pulang."
Ibuku langsung ke dapur. sementara kami berdua hanya terdiam.. Sedangkan ayahku masuk ke kamar.
" Em,,"
"emm."
kami berdua serempak
" Abang dulu ngomong."
" Makasih ya udah nolong aku."
" Itu udah takdir dari Allah, bang. seandainya 3 tahun yang lalu abang gak nolong saya,mungkin abang juga gak sampe di rumah lagi bang. ejak terakhir kita ketemu, aku lupa bilang makasih sama abang. Aku langsung pulang aja karena buru-buru, dan aku berjanji dalam hati, kalo aku ketemu abang, apapun yang abang nminta, insya Allah aku sanggup, aku udah berutang nyawa sama abang."
" Iya, dan akhirnya kita ketemu lagi dengan cara seperti ini."
" Itulah bang,kalo jodoh pasti bertemu."
jodoh? Aku jadi teringat tentang apa yang terjadi semalam. fatimah telah dijodohkan dengan orang lain. Tanpa sadar aku terhanyut dalam lamunanku karena memikirkan Fatimah.
" Hey, bang! Jangan ngelamun gitu, ah.Gak enak liat mukanya kek gitu, senyum dong."
" Eh, iya, hehehe.."
 Aku memaksakan senyum untuk menutupi kesedihanku. Jodan pun memandang wajahku dan seolah-olah membatin dalam hati.
" Nah, diminum dulu teh nya."
" Iya, mak, makasih udah dibuatin teh."
Emak?? sejak kapan ibuku jadi Emak jodan?
Hmmm.. apakah itu caranya mengakrabkan dirinya, akupun tak tahu. Aku tak mau ambil pusing dengan hal itu. Sebab aku sendiri masih pusing dengan apa yang baru saja terjadi padaku.
 Sikap Fatimah dan kata-katanya bagaikan petir yang menyambarku, hingga meluluhlantakkan hati dan pikiranku.
Pernah ku dengar dari orang-orang, jika seseorang siap jatuh cinta, maka orang itu harus siap untuk tersakiti. Aku siap lahir batin untuk mencintai dan hidup dengan fatimah, tapi aku tak siap untuk tersakiti.
aku belum pernah  merasakan cinta yang begitu dalam pada seseorang. Fatimahlah orang pertama yang menjadi cinta pertamaku. Namun kenyataannya, aku harus menelan pil pahit dari hidupku. semua sudah terjadi dan aku masih memikirkan Fatimah.
" ya udah cepat dihabisin tehnya, udah malam. jodan tidur sini aja. tuh si Agil tidur sendiri di kamar."
" Jadi terus ngerepotin, ni mak."

 Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 01.45 wib. Aku pun mengajak Jodan untuk tidur. Ketika semuanya terlelap, aku tak bisa memejamkan mata. Pikiranku melayang-layang teringat semua kenangan ku bersama Fatimah. Aku masih tak percaya. Seperti mimpi saja. Ku palingkan wajahku ke arah Jodan, kuliat ia lelap sekali sampai tidurnya pun ngorok.



___________________________________

Aku hanya bisa menghela nafas sembari duduk diatas kursi rodaku. Pil pahit kehidupan yang ku telan amat menyakitkan. Peristiwa itu takkan bisa aku lupakan hingga saat ini.
Kembali ku lihat Purnama di atas mega. Perlahan, namun rona pelangi yang mengelilinginya semakin pudar. Meski begitu ingatanku akan 40 tahun silam tetap segar. Dan ceritaku bersama Jodan pun dimulai.

 Bersambung ke BAB 2  >>>>>>> 


Komentar