Aku berjalan berkeliling kampung melepas rindu dengan suasana kampung, teman-teman, dan saudara-saudara ku. Hingga hari mulai gelap aku beranjak untuk pulang, aku kembali melihat Fatimah lewat entah dari mana. Lantas ku beranikan diri untuk bertanya padanya.
" Dari mana Fatimah? kok maghrib baru balik? "
" Baru pulang kerja, bang. "
" Emang kerja dimana? "
" Biasa bang, jadi babu cuci. Oh ya bang Agil dah lama tak nampak, kemana aja? "
" Baru pulang merantau, cari duit. "
" Wah! banyak lah bawa uang, bang? "
Sambil tersipu malu aku menjawab " Gak bawa apa-apa mah, syukur-syukur bisa pulang, hehehe. "
" Gitu, ya bang! Timah pulang dulu bang, udah maghrib,main lah bang kerumah. "
" Iya , Insya Allah ya. "
Ia pun berjalan pulang, namun tatapan mataku tak lepas melihatnya dari kejauhan.
Di kampung kami, mayoritas masyarakatnya ekonomi lemah, artinya baik aku dan Fatimah sama-sama orang miskin, hanya saja yang membedakan orang tuaku memiliki rumah sendiri sedangkan orang tua Fatimah masih mengontrak.
Usia Fatimah terpaut 2 tahun di bawahku, ia tidak melanjutkan sekolah ke jenjang SMU, sehingga ia nikah muda.
Setahun setelah lulus SLTP ia menikah dengan pacarnya yang umurnya sebaya dengan ku, apakah karena faktor ekonomi atau memang jodohnya cepat, aku pun tak tahu. Yang aku tahu saat ini ia telah menjadi janda dan tengah berjuang menghidupi anaknya yang masih berusia 9 bulan. Kasihan aku melihatnya, dari pagi sampai menjelang maghrib ia bekerja sebagai tukang cuci dari pintu ke pintu, padahal dalam usia anak seperti itu , sebenarnya Fatimah memberikan perhatian penuh buat anaknya. Namun karena ia bekerja, maka sang neneklah yang mengurus buah hatinya.
Malam pun telah tiba, aku yang baru saja mandi dan shalat maghrib langsung keluar rumah, tadinya kupikir hendak kemanalah kaki melangkah, namun aku teringat akan Fatimah, langsung saja aku bergegas menuju rumahnya. Kulihat di depan rumah Fatimah ada warung yang ternyata itu adalah warungnya berjualan, sebab aku melihatnya sibuk melayani pembeli yang datang.
" eh, bang Agil, mari duduk, bang."
" Iya, Mah, jualan juga rupanya? "
" Iya, bang, buat tambahan uang belanja. "
" Oh,gitu,!? Dah berapa lama jualannya? "
" Barulah, bang. Palingan jugak baru 3 bulan. "
Aku memandangnya sambil berkata-kata dalam hati " gigih benar anak ini cari duit. "
Lamunanku pun buyar karena mendengar suara tangis anak bayi dalam rumahnya yang tak lain adalah anaknya.
" Bang, timah tinggal dulu ya, si adek lagi nangis, tuh. "
" Iya, gak papa kok. "
Mungkin hidup yang kujalani tak sekeras hidup Fatimah, karena ia seorang diri mati-matian membanting tulang demi menghidupi anaknya. Sedangkan aku, entahlah, aku juga tak tahu, diusia ku saat ini mungkin seharusnya aku bekerja keras agar kelak di usia senja nanti aku bisa hidup tenang. Namun saat ini pun aku belum ada terpikir untuk pacaran,apalagi menikah.
" Gak baik bang melamun gitu.Nanti kesurupan lho!??? "
" Heehe,,lagi mikir nih gimana supaya dapat duit. "
" Ya kerja lah bang. Duit tuh gak kan datang kalo cuma melamun aja. "
" iya, iya, abang tau, heheheh. "
" Bentar ya, bang, ada yang beli. "
" Nasinya gak usah pake telor sambal, Mah. Pake telor dadar aja ya. "kata sang Pembeli yang ternyata adalah teman kecil ku, Danu.
" Woy!!! Apa kabar? Sombong kali lah yang baru pulang,ni. "
" Eh, Dan, Kau rupanya.Alhamdulillah, baik."
" Macam mana merantaunya? Sukses gak? "
" Apa yang sukses? Yang ada amsiong lah!! "
" Kalo merantau dah tak berhasil, tak payah pigi-pigi lagi lah! bagus cari kerja disini atau jualan aja! "
" Rencananya, sih mau jualan aja,tapi belum ada modal. "
" Kalo gitu ya, kerja dulu lah, baru bisa ngumpulin modal jualan. OK, ya gil aku cabut dulu."
" OK, Dan ."
Usai melayani pembeli, Fatimah pun duduk di samping ku. Ku tolehkan mukaku ke arahnya, ras deg-degan di dada ku pun terasa ketika aku melihat wajahnya dari dekat.
" Kenapa, Bang? Kok nengoknya serius kali gitu? "
" Gak pa....pa kok,hehehehe..."jawab ku terbata-bata
Akhirnya kamipun saling bercerita. Aku bercerita tentang pengalamanku merantau dan ia pun menceritakan saat suaminya mulai jatuh sakit akibat kecelakaan di proyek tempatny bekerja hingga suaminya pergi untuk selama-lamanya. Saat itu Fatimah sedang mengandung 6 bula,sehingga anaknya yang bernama Rindu itu sama sekali tak mengenal ayahnya.
Sambil mendengarkan ia bercerita, kupandangi wajahnya, kulihat ada raut kesedihan dan matanya mulai nanar ketika ia menceritakan masa-masa sulitnya.
Dan aku pun tersentuh mendengarkan kisah hidupnya. Rasa simpatiku padanya begitu besar setelah mendengarkan kisahnya.
Tak terasa malam semakin larut, akupun pamit untuk pulang. Sepanjang jalan aku berpikir tentang Fatimah, betapa malang nasibnya.
Andai saja ia berjodoh dengan ku dan aku menjadi ayah bagi anaknya, mungkin tak seperti ini kejadiannya.
" Hei!! Kok bisa aku sampai berpikir jadi ayah bagi anaknya? Batinku dalam hati
Akhirnya aku pun sampai juga di rumah, dan bergegas tidur.
Ku coba pejamkan mata, namun wajah dan suar Fatimah masih terngiang jelas di pikiranku.Apakah ini yang namanya cinta atau sekedar rasa simpati ku saja,aku pun tak tahu.
Lambat laun mataku mulai terasa berat dan rasa kantuk pun mulai menghampiriku.
" Dimana aku? "
Ku melihat sekeliling ku, begitu asing, begitu indah.
Hamparan padang rumput nan hijau dan begitu banyak pepohonan yang rimbun di sekeliling ku menambah asri suasana pemandangan siang ini.
Aku terus berjalan menuju padang rumput itu. Ku lihat ada danau kecil dengan seorang perempuan duduk di tepinya. Kicauan burung-burung terdengar begitu menenangkan. Damai sekali. Apakah ini Syurga,pikirku.
Kedamaian itu terganggu dengan jeritan minta tolong perempuan itu.
" Tolong!! Tolong!! Bang Agil Tolooooong!!!
Sepertinya suara itu aku kenal.
Yah!! itu suara Fatimah dan aku melihatnya terperosok ke danau, nyaris tenggelam.
Sontak aku berlari sekonyong-konyong menuju danau dan melompat masuk ke danau untuk menyelamatkan Fatimah.
" Dari mana Fatimah? kok maghrib baru balik? "
" Baru pulang kerja, bang. "
" Emang kerja dimana? "
" Biasa bang, jadi babu cuci. Oh ya bang Agil dah lama tak nampak, kemana aja? "
" Baru pulang merantau, cari duit. "
" Wah! banyak lah bawa uang, bang? "
Sambil tersipu malu aku menjawab " Gak bawa apa-apa mah, syukur-syukur bisa pulang, hehehe. "
" Gitu, ya bang! Timah pulang dulu bang, udah maghrib,main lah bang kerumah. "
" Iya , Insya Allah ya. "
Ia pun berjalan pulang, namun tatapan mataku tak lepas melihatnya dari kejauhan.
Di kampung kami, mayoritas masyarakatnya ekonomi lemah, artinya baik aku dan Fatimah sama-sama orang miskin, hanya saja yang membedakan orang tuaku memiliki rumah sendiri sedangkan orang tua Fatimah masih mengontrak.
Usia Fatimah terpaut 2 tahun di bawahku, ia tidak melanjutkan sekolah ke jenjang SMU, sehingga ia nikah muda.
Setahun setelah lulus SLTP ia menikah dengan pacarnya yang umurnya sebaya dengan ku, apakah karena faktor ekonomi atau memang jodohnya cepat, aku pun tak tahu. Yang aku tahu saat ini ia telah menjadi janda dan tengah berjuang menghidupi anaknya yang masih berusia 9 bulan. Kasihan aku melihatnya, dari pagi sampai menjelang maghrib ia bekerja sebagai tukang cuci dari pintu ke pintu, padahal dalam usia anak seperti itu , sebenarnya Fatimah memberikan perhatian penuh buat anaknya. Namun karena ia bekerja, maka sang neneklah yang mengurus buah hatinya.
Malam pun telah tiba, aku yang baru saja mandi dan shalat maghrib langsung keluar rumah, tadinya kupikir hendak kemanalah kaki melangkah, namun aku teringat akan Fatimah, langsung saja aku bergegas menuju rumahnya. Kulihat di depan rumah Fatimah ada warung yang ternyata itu adalah warungnya berjualan, sebab aku melihatnya sibuk melayani pembeli yang datang.
" eh, bang Agil, mari duduk, bang."
" Iya, Mah, jualan juga rupanya? "
" Iya, bang, buat tambahan uang belanja. "
" Oh,gitu,!? Dah berapa lama jualannya? "
" Barulah, bang. Palingan jugak baru 3 bulan. "
Aku memandangnya sambil berkata-kata dalam hati " gigih benar anak ini cari duit. "
Lamunanku pun buyar karena mendengar suara tangis anak bayi dalam rumahnya yang tak lain adalah anaknya.
" Bang, timah tinggal dulu ya, si adek lagi nangis, tuh. "
" Iya, gak papa kok. "
Mungkin hidup yang kujalani tak sekeras hidup Fatimah, karena ia seorang diri mati-matian membanting tulang demi menghidupi anaknya. Sedangkan aku, entahlah, aku juga tak tahu, diusia ku saat ini mungkin seharusnya aku bekerja keras agar kelak di usia senja nanti aku bisa hidup tenang. Namun saat ini pun aku belum ada terpikir untuk pacaran,apalagi menikah.
" Gak baik bang melamun gitu.Nanti kesurupan lho!??? "
" Heehe,,lagi mikir nih gimana supaya dapat duit. "
" Ya kerja lah bang. Duit tuh gak kan datang kalo cuma melamun aja. "
" iya, iya, abang tau, heheheh. "
" Bentar ya, bang, ada yang beli. "
" Nasinya gak usah pake telor sambal, Mah. Pake telor dadar aja ya. "kata sang Pembeli yang ternyata adalah teman kecil ku, Danu.
" Woy!!! Apa kabar? Sombong kali lah yang baru pulang,ni. "
" Eh, Dan, Kau rupanya.Alhamdulillah, baik."
" Macam mana merantaunya? Sukses gak? "
" Apa yang sukses? Yang ada amsiong lah!! "
" Kalo merantau dah tak berhasil, tak payah pigi-pigi lagi lah! bagus cari kerja disini atau jualan aja! "
" Rencananya, sih mau jualan aja,tapi belum ada modal. "
" Kalo gitu ya, kerja dulu lah, baru bisa ngumpulin modal jualan. OK, ya gil aku cabut dulu."
" OK, Dan ."
Usai melayani pembeli, Fatimah pun duduk di samping ku. Ku tolehkan mukaku ke arahnya, ras deg-degan di dada ku pun terasa ketika aku melihat wajahnya dari dekat.
" Kenapa, Bang? Kok nengoknya serius kali gitu? "
" Gak pa....pa kok,hehehehe..."jawab ku terbata-bata
Akhirnya kamipun saling bercerita. Aku bercerita tentang pengalamanku merantau dan ia pun menceritakan saat suaminya mulai jatuh sakit akibat kecelakaan di proyek tempatny bekerja hingga suaminya pergi untuk selama-lamanya. Saat itu Fatimah sedang mengandung 6 bula,sehingga anaknya yang bernama Rindu itu sama sekali tak mengenal ayahnya.
Sambil mendengarkan ia bercerita, kupandangi wajahnya, kulihat ada raut kesedihan dan matanya mulai nanar ketika ia menceritakan masa-masa sulitnya.
Dan aku pun tersentuh mendengarkan kisah hidupnya. Rasa simpatiku padanya begitu besar setelah mendengarkan kisahnya.
Tak terasa malam semakin larut, akupun pamit untuk pulang. Sepanjang jalan aku berpikir tentang Fatimah, betapa malang nasibnya.
Andai saja ia berjodoh dengan ku dan aku menjadi ayah bagi anaknya, mungkin tak seperti ini kejadiannya.
" Hei!! Kok bisa aku sampai berpikir jadi ayah bagi anaknya? Batinku dalam hati
Akhirnya aku pun sampai juga di rumah, dan bergegas tidur.
Ku coba pejamkan mata, namun wajah dan suar Fatimah masih terngiang jelas di pikiranku.Apakah ini yang namanya cinta atau sekedar rasa simpati ku saja,aku pun tak tahu.
Lambat laun mataku mulai terasa berat dan rasa kantuk pun mulai menghampiriku.
" Dimana aku? "
Ku melihat sekeliling ku, begitu asing, begitu indah.
Hamparan padang rumput nan hijau dan begitu banyak pepohonan yang rimbun di sekeliling ku menambah asri suasana pemandangan siang ini.
Aku terus berjalan menuju padang rumput itu. Ku lihat ada danau kecil dengan seorang perempuan duduk di tepinya. Kicauan burung-burung terdengar begitu menenangkan. Damai sekali. Apakah ini Syurga,pikirku.
Kedamaian itu terganggu dengan jeritan minta tolong perempuan itu.
" Tolong!! Tolong!! Bang Agil Tolooooong!!!
Sepertinya suara itu aku kenal.
Yah!! itu suara Fatimah dan aku melihatnya terperosok ke danau, nyaris tenggelam.
Sontak aku berlari sekonyong-konyong menuju danau dan melompat masuk ke danau untuk menyelamatkan Fatimah.
BYURRR!!!Aku langsung terbangun.Ternyata aku bermimpi. Dan bunyi air tadi adalah bunyi dari siraman seember air ke wajahku oleh ibuku.Sedangkan suara yang memanggil namaku sebenarnya adalah suara ibuku yang berulang kali membangunkanku namun aku tak terjaga juga, sehingga ibu mengeksekusi ku dengan seember air.
Komentar
Posting Komentar