Cinta itu persahabatan

April 2005
Sudah 3 bulan aku bekerja di pajak. Perlahan aku telah mengumpulkan uang dan dapat membantu  perekonomian orang tuaku. Selama 3 bulan ini pula hubugan ku dengan Fatimah semakin erat.
Namun tetap saja akumasih belum bisa memastikan tentang perasaanku ini padanya. Apakah hanya sebatas simpati atau ada rasa yang lain.

Sahabat, maafkan aku mencintai mu

Aku bersiap-siap memberesi pekerjaanku. Hari ini aku begitu semangat. Ku lihat waktu menunjukkan pukul 17.25 wib. Seharusnya hari ini aku sudah pulang, namun karena ramainya pembeli, jadi toko tutup agak lama.
Tapi yang buat aku semangat bukan pembeli yang ramai, melainkan hari ini adalah hari gajianku. dan aku berencana mengajak Fatimah serta anaknya jalan-jalan ke kota.
" Agil, hari ini lu telima gaji. Gaji lu bulan ini wa tambah.Tetap yang lajin kerja, ya ? "
' Makasih, ci, kamsia, kamsia."
Baik sekali toke ku, selama ini aku sudah 3 kali naik gaji. Mungkin karena ia menilai kerjaku baik. Tapi menurut versinya, aku membawa hoki di tokonya. Biarlah ia dengan keyakinannya. Yang penting malam ini aku bisa mengajak Fatimah jalan-jalan.. Setelah menutup toko, kami pun pulang kerumah masing-masing.

" Assalaamu 'alaikum "
" Wa'alaikum salam. Semangat kali emak tengok, kau. Kok tumben agak lama, Gil? "
" Iya, mak, ramai pembeli, jadi agak lama tutupnya. Oh ya ,mak, hari ini aku gajian dan gajiku dinaikkan lagi sama kak A sim. "
" Alhamdulillah, baguslah. Ya udah sana makan terus mandi. Tu lauk ada di grobogan. "
" Iya mak."
 Setelah memberikan hasil kerja ku kepada ibuku, aku pun bergegas mandi dan makan, kemudian sehabis maghrib aku akan jalan-jalan dengan Fatimah.
Aku bergerak keluar rumah menuju rumah Fatimah. Sesampainya disana, ku lihat warungnya sepi dan sepertinya Fatimah tidak berjualan.Aku bertanya-tanya dalam hati, kemana si Fatimah. Kuberanikan diri menanyakan pada wak Ina, ibu Fatimah.
" Wak, Fatimah tak jualan? "
" Gak, Gil,tapi si adek kena step, jadi di bawa berobat ke rumah sakit. Ni pun wak baru pulkang dari sana."
" Rumah sakit mana, wak? "
" Kumpulan Pane "
"  Oh, ya udah wak, aku kesana.Makasih ya wak "
Aku pun bergegas pergi menuju Rumah Sakit tsb. Sembari berjalan mencari becak,aku lihat Danu sedang duduk di atas kereta.
" Dan, bisa minta tolong, gak? "
" Apa tu, Gil? "
" Anrarkan aku ke RSUD Kumpulan Pane "
"  Ok, siapa yang sakit? "
" Anak Fatimah. Ni aku mau kesanalah, nengok. "
" yok lah."
Danu pun bersedia mengantarkan aku ke RSUD. Dalam perjalanan kami, Danu pun bertanya
" Kau ni macam ada rasa ku tengok sama Fatimah, makin mesra aja kelen ku tengok. nanti kau suka pulak sama Fatimah ?
" Ah, kau ni ada-ada aja, Dan. Fatimah tu macam sahabat bagi ku. Apa karena dia Perempuan aku tak boleh bekawan sama dia? "
" Justru itulah, gil. Karena kau laki-laki dan dia perempuan. Awalnya sahabat, tapi lama-lama bisa jadi cinta."
" Kami cuma kawan aja, Dan."
" Iyalah, gil. Cuma kawan. Tapi tanpa kau sadari bakal tumbuh rasa cinta kau nanti. Kadang-kadang sahabat dan cinta susah dibedakan. Macam di film india tuh, KUCH KUCH HOTA HAI, cinta itu persahabatan, gil,hahahahaha...."
" Ah kebanyakan nonton bollywood kau Dan,hahaha..."
Tak lama kami pun sampai di tempat.
" Thanks ya Dan "
" Ok sob, sama-sama,dah ya aku cabut dulu."
" Ok."
Aku masuk ke ruangan informasi dan bertanya pada pegawai rumah sakit.

"Bu, ada pasien baru masuk, ya? anak kecil usia kurang lebih 9 bulan. Nama ibunya Fatimah."
" Sebentar, pak, kami cek dulu. Di ruang anak Rajawali 1, silahkan Bapak kesana. Bapak orang tua si anak, ya?"
" Macam mana, bu?"
" Maksud saya, bapak suaminya ibu Fatimah? "
" Oh, masih rencana, sih Bu.Ok makasih, bu dokter."
 Aku melihat Dokter yang jaga di ruang informasi menatapku heran. Aku baru sadar atas apa yang baru saja ku ucapkan.Pantas saja ia menatap seperti itu. "
Fatimah, macam mana keadaan Rindu? "
" Alhamdulillah bang ,udah agak mendingan."
" Alhamdulillah, Timah udah makan? "
" belum, bang, nanti aja.Lagian gak selera makan."
Aku melihat Fatimah sedang duduk di bangku di luar ruangan anak. Sepanjang pembicaraan kami, ku lihat matanya masih terlihat jelas baru menangis.
" Sebentar, ya Mah. Abang keluar dulu, nanti abang balik lagi, yah? "
" Iya, bang."
Karena buru-buru tadi aku jadi lupa bawa buah tangan untuk Fatimah. Akhirnya kuputuskan untuk membeli sebotol Aqua dan sebungkus roti bantal dan srikaya di toko depan rumah sakit "
" Ni, makan roti. Jangan gak makan. kalo Timah sakit, siapa yang jaga si adek? "
" Jadi ngerepotin, ne bang."
" Ah, gak kok, tadi abang berencana mau ngajak Fatimah dan rindu jalan-jalan. Trus abang pas nyampe rumah di bilang uwak kalo Fatimah di rumah sakit, ya udah abang langsung ke sini."
" Makasih ya bang, abang udah banyak bantu fatimah."
 " Bantu apa? Kayaknya abang gak ada bantu Fatimah lah."
" mungkin abang gak ada bantu secara materi, tapi semenjak abang sering kerumah dan sering sharing sam fatimah, semangat hidup Timah datang lagi bang, Timah macam melihat almarhum suami Timah di dalam diri abang."
" Yang namanya sahabat, ya harus gitu, Mah. Harus saling menasehati dan memberi motivasi biar...."
Aku langsung terdiam. Aku teringat kata-kata Danu tadi, dan aku teringat ucapan Fatimah . Apakah ia merindukan sosok suaminya atau sosok seorang suami, entahlah.
" bang, kok diem? "
" Eng.. anu..Mah, bang mau nanya sesuatu nih."
" Nanya apa bang? "
" Tadi kan kawan abang curhat, dia cerita sama abang,dia punya teman cewek, dan mereka udah lama bekawan. Awalnya dia cuma menganggap sebagai teman biasa aja, tapi lama-lama dia jatuh cinta sama tu cewek,.Pantasnya, apa yang mesti dia lakukan ya? Abang bingung ngasih jawabannya Mah."
" Bang,bilang aja ke kawan abang untuk ungkapkan semuanya ke cewek itu bang, Dari pada di pendam terus, kan gak enak juga kan, bang?"
" trus, seandainya cewek itu menolak, macam mana?"
" Ya, harus siap mental juga lah, bang.Tapi yang namanya cewek dia akan siap mendengar kalo dia suka sama cowok itu, rela menghabiskan waktunya berlama-lama cuma untuk mengobrol dengan cowok yang disukainya. Dan kalo pun seandainya Timah jadi tu cewek, timah pasti menerimanya, menerima cintanya, karena yang namanya cinta itu bakal tumbuh kalo sering bersama, bang. Apa lagi kalo orang iru punya perangai yang baik sama kita."

" Mah, abang pengen jadi ayah buat Rindu."

Fatimah terdiam menatapku. Matanya berkaca-kaca seakan penuh dengan air mata. Dan iapun menjatuhkan air mata kemudian bangkit masuk keruangan anak. Aku pun menyusulnya hendak meminta maaf.
" Mah, maafin abang, kalo kata-kata abang membuat Timah sedih dan terluka."
fatimah diam saja dan hanya menangis sambil membelai bah hatinya yang tertidur pulas.
" kalo kedatangan abang buat Fatimah hanya menambah kesedihan, abang pamit pulang."
Aku bergerak keluar ruangan itu dan hendak pulang, Lalu suara yang kukenal itu memanggilku.
" Bang Agil, tunggu! "
Aku menghentikan langkahku. Ku balikkan badan, kulihat Fatimah mendatangiku dan berkata
" Abang serius dengan cakap abang itu? bukan hanya untuk menghina Timah, bang? "
" Demi Allah, abang serius, Mah. Baru kali ini abang merasakannya.dan baru kali ini lah abang berani ungkapkan perasaan ke cewek, yaitu kau, Fatimah.!"
"Timah gak tau harus bilang apa, bang. selama ini cuma abang lah cowok yang dekat sama Timah, sejak kepergian almarhum suami Timah, cuma abang yangungkapkan hal ini. Dan Timah ini janda, bang. jadi Timah pikir abang gak kan mau nikah sama Timah, abang hanya anggap Timah sebatas sahabat aja. Timah gak pantas buat abang."
" mah, pantas atau tidaknya itu yang menilai abang.Abang yang rasakan itu semua,Anak, mencuci, jualan, itu semua nilai tambah timah. itu semua yang buat abang berani ungkapkan rasa ini, Timah sabar dan gigih dalam menjalani hidup."
" abang apa gak nyesal nanti hidup sama Timah?Apa kata tetangga kalo abang jalan sama Timah, bang? Abang siap untuk malu?"
" Ini keputusan abang dan abang gak kan pernah malu jika nanti abang di cemoohkan orang-orang. Abang gak peduli, Mah. niat abang tulus! "
"Apa abang bisa janji sama Timah? Abang gak akan sia-siakan timah, bang?"
" Abang janji dan abang gak kan ninggalin Timah dan rindu. jadi apa timah mau nerima abang? "
" Iya, bang Timah, mau"
" Alhamdulillah, makasih Timah."




-----------------------------------------------------
Rasa persahabatan itu berubah jadi cinta. Dialah perempuan pertama yang menjadi kekasihku, dan dialah yang mengisi hidupku selama 3 tahun. Masih jelas dalam ingatanku, wajahnya, suaranya. Namun Tuhan berkata lain.Persis seperti saat ini, di malam bulan purnama, ketika lingkaran pelangi menghiasinya, kejadian yang menyakitkan bagiku dan merubah prilaku ku saat itu.

Komentar